Deepfake: Rekayasa Konten Palsu, Hasil produk AI

Authors

  • Mars Caroline Wibowo Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Keywords:

REKAYASA KONTEN PALSU, HASIL PRODUK AI

Abstract

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha ESA atas segala Berkat, Rahmat dan Karunia, sehingga buku yang berjudul “Deepfake : Rekayasa Konten Palsu, Hasil produk AI” ini  dapat  diselesaikan  dengan  baik.  Kehadiran  buku  ini  dimaksudkan  untuk  memberikan kontribusi  teoretis  dan  praktis  dalam  merespons  perkembangan  teknologi  yang  telah mendisrupsi tatanan sosial serta hukum secara fundamental. 

Saat  ini,  masyarakat  global  tengah  berada  pada  suatu  era  eksponensial  yang  belum pernah terjadi sebelumnya sebuah periodisasi di mana realitas visual dapat direkayasa secara artifisial, identitas suara seorang tokoh publik dapat dipalsukan, dan batas antara kebenaran serta disinformasi menjadi kian kabur. Teknologi deepfake, yang lahir dari konvergensi antara metode  pembelajaran  mendalam  (deep  learning)  dan  teknik  rekayasa  digital  berbasis Generative Adversarial Networks (GANs), telah mengubah lanskap sirkulasi informasi secara paradigmatik. Fenomena manipulasi audio-visual yang dahulu hanya mampu diproduksi oleh studio sinematografi profesional dengan biaya tinggi, kini dapat diakses dan dioperasikan oleh siapa  saja  melalui  perangkat  lunak  berskala  personal  dalam  hitungan  menit,  bahkan  tanpa memerlukan kualifikasi teknis yang mendalam. 

Penulisan buku ini diinisiasi oleh sebuah kegelisahan akademik (academic anxiety) yang mendalam  mengenai  kesenjangan  regulasi  (regulatoris  gap).  Ketika  akselerasi  inovasi teknologi  kecerdasan  buatan  bergerak  secara  eksponensial,  instrumen  hukum  sering  kali mengalami  keterlambatan  yang  signifikan  (elemen  lagging),  terjebak  dalam  rigiditas  teks perundang-undangan  konvensional  yang  dirumuskan  jauh  sebelum  kecerdasan  buatan mengintervensi ruang publik.  

Di  Indonesia,  manifestasi  empiris  dari  kekosongan  hukum  ini  telah  memicu  eskalasi eksploitasi  digital:  mulai  dari  manipulasi  rekaman  pejabat  publik  demi  motif  penipuan finansial, pemanfaatan bot otomatisasi untuk memproduksi pornografi sintetis nonkonsensual (non-consensual  deepfake  pornography)  yang  menyasar  mahasiswi  selaku  korban,  hingga rekayasa biometrik wajah yang mengakibatkan kerugian finansial berskala masif pada sektor perbankan  digital.  Sementara  itu,  aparat  penegak  hukum  dihadapkan  pada  kedaruratan metode  pembuktian  ilmiah  (scientific  crime  investigation)  karena  delik-delik  digital  ini  tidak meninggalkan impresi fisik konvensional, di sisi lain korban berada pada posisi rentan akibat ketiadaan kepastian interpretasi pasal yang spesifik. 

References

no references

Downloads

Published

2026-05-18

How to Cite

Deepfake: Rekayasa Konten Palsu, Hasil produk AI. (2026). Penerbit Yayasan Prima Agus Teknik, 12(1). https://penerbit.stekom.ac.id/index.php/yayasanpat/article/view/710