PERAN AI dalam PENEGAKAN HUKUM

Authors

  • Agus Wibowo Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Keywords:

PERAN AI dalam PENEGAKAN HUKUM

Abstract

 Puji  syukur  penulis  panjatkan  ke  hadirat  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  karena  atas  rahmat, karunia,  dan  penyertaan-Nya,  buku  yang  berjudul  Peran  AI  Dalam  Penegakan  Hukum  ini akhirnya dapat diselesaikan. Kehadiran buku ini merupakan hasil dari pergulatan intelektual penulis dalam mencoba memahami salah satu gejala paling menentukan pada masa kini, yaitu perjumpaan  antara  perkembangan  teknologi  kecerdasan  buatan  (Artificial  Intelligence/AI) dengan  prinsip-prinsip  dasar  negara  hukum,  keadilan,  tata  kelola  pemerintahan,  dan perlindungan  terhadap  martabat  manusia.  Buku  ini  lahir  bukan  semata  dari  ketertarikan akademik terhadap inovasi teknologi, tetapi juga dari kesadaran bahwa perkembangan AI telah memasuki  wilayah-wilayah  yang  selama  ini  menjadi  inti  dari  kehidupan  hukum  dan  politik modern:  pengambilan  keputusan,  distribusi  kewenangan,  pembuktian,  pengawasan, pelayanan publik, hingga relasi antara negara dan warga negara. 

Dalam dua dekade terakhir, dunia telah menyaksikan bagaimana AI berkembang dari sekadar  objek  penelitian  teknis  menjadi  infrastruktur  pengetahuan  dan  kekuasaan  yang semakin  berpengaruh.  Sistem  AI  kini  tidak  hanya  dipakai  untuk  mempermudah  pekerjaan administratif  atau  mempercepat  analisis  data,  tetapi  juga  mulai  terlibat  dalam  penyusunan rekomendasi  kebijakan,  pengelolaan  bantuan  sosial,  prediksi  risiko,  penilaian  kredit, identifikasi wajah, pemantauan lalu lintas, pengawasan digital, dan bahkan penataan proses hukum. Kemampuan sistem semacam ini untuk mengolah data dalam skala besar, mendeteksi pola secara cepat, serta menghasilkan klasifikasi atau prediksi menjadikannya sangat menarik bagi  institusi  negara  maupun  aktor  pasar.  AI  menawarkan  janji  efisiensi,  konsistensi,  dan skalabilitas yang sulit dicapai oleh mekanisme manusia murni. 

Namun  demikian,  justru  pada  titik  itulah  persoalan  mendasar  mulai  muncul.  Ketika keputusan-keputusan  yang  memengaruhi  hidup  seseorang  dipandu  atau  bahkan  dibentuk oleh sistem algoritmik, maka pertanyaan hukum tidak lagi dapat dibatasi pada soal “apakah teknologi ini bekerja?”, tetapi harus diperluas menjadi “bagaimana teknologi ini bekerja, untuk siapa ia bekerja, siapa yang mengawasinya, dan nilai apa yang diam-diam dibawanya?” Sistem yang  efisien  belum  tentu  adil.  Sistem  yang  konsisten  belum  tentu  manusiawi.  Sistem  yang akurat  secara  statistik  belum  tentu  sah  secara  normatif.  Dalam  banyak  situasi,  kecanggihan teknologi  justru  dapat  menutupi  persoalan-persoalan  lama  dalam  wajah  baru:  bias  yang dibungkus objektivitas, kekuasaan yang dibungkus efisiensi, atau pengawasan yang dibungkus inovasi. 

Dari  sudut  pandang  hukum,  transformasi  ini  menghadirkan  tantangan  yang  sangat mendalam.  Hukum  modern  berdiri  di  atas  sejumlah  asumsi  dasar:  bahwa  keputusan  harus dapat  dijelaskan,  bahwa  kekuasaan  harus  dapat  dipertanggungjawabkan,  bahwa  individu berhak didengar, bahwa aturan harus dapat diketahui, dan bahwa lembaga publik tidak boleh melepaskan  tanggung  jawabnya  kepada  mekanisme  yang  tidak  dapat  diuji.  Akan  tetapi, perkembangan AI sering kali justru bergerak ke arah yang berlawanan. Algoritma dapat bekerja dengan  kompleksitas  yang  melampaui  pemahaman  pengguna  biasa.  Model  prediktif  dapat memproduksi  rekomendasi  tanpa  penjelasan  yang  mudah  dipahami.  

References

no references

Downloads

Published

2026-04-27

How to Cite